Sinematik dan Diri
Suatu bakat dalam diri seseorang biasanya muncul tanpa disadari, bakat tersebut sudah terlihat sejak kecil. Bakat merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang, salah satu kemampuan tersebut adalah seni. Seni yang sedang terkenal pada era digital adalah videografi, dan juga menjadi salah satu kemampuan yang ku miliki.
Pada awal mula mencoba
dunia videografi aku tidak mengetahui tentang dasar videografi, bahkan kamera
yang menjadi alat utama videografi aku tidak mengetahu cara pakainya. “Coba
dulu kali ya ambil gerakan pakai handphone,”
ujar diriku yang ingin mencoba dunia sinematik kala itu.
Mengambil gerakan video
masih sangat buruk dan jika disaksikan pasti penonton pusing, ditambah aplikasi
untuk mengedit yang seadanya. “Ah.. kalau begitu aku belajar gerakannya aja
dulu, aplikasi untuk mengeditnya belakangan,” ujar diriku dengan mencari cara
untuk mendapat sudut terbaik.
Aku mencari aplikasi
lain untuk mengedit video yang baik untuk digunakan pada handphone, kemudian aku menemukan aplikasi bernama Splice. “Wah
puas banget nih ada aplikasi yang bisa edit video dan ditambah lagu sesuka
hati,” perkataan ku sembari mengedit video pada layar kecil handphone.
Semua hal tentang
videografi pada handphone dirasa
cukup menurutku waktu itu, aku bosan dan tidak bergelut dengan dunia videografi
lagi. Beberapa bulan tidak menggeluti dunia itu aku dibuat penasaran dengan
karya seseorang di media sosial, “Ini karya apaa?!?! Kok kayak sekelas
bioskop”, aku dengan rasa penasaran.
Mencari informasi lebih
dalam yang aku lakukan setelah mengetahui hal tersebut, serta mencari cara
memegang kamera yang benar. Aku mencoba dan sering melakukan latihan teknik
memegang kamera yang benar, dari teknik memegang, mengatur pernapasan, dan
kuda-kuda untuk pergerakan video mulus atau tidak goyang.
Semua teknik tersebut
sebenarnya aku hanya mencari cara sendiri, dan aku rasa seluruh teknik buatanku
cocok dengan diriku. Aku sudah mendapat sedikit ruang nyaman dalam pengambilan
video, sekarang giliran aplikasi untuk mengeditnya. Aplikasinya sudah memakai
laptop, yaitu Windows Movie Maker yang diperuntukan untuk pemula.
Aplikasi memang terdapat di laptop, namun isi dari aplikasi tersebut tidak jauh berbeda dengan aplikasi yang terdapat pada handphone. “Yailah enggak beda jauh ini sama yang di handphone,” ucapku, hanya saja dengan menggunakan laptop jadi lebih mudah memindahkan video bahan.
Pekerjaan mengedit pada
saat pertama kali, aku membuat video tentang mobil dan perjalanan. Aku
mengambil momen video pada saat perjalanan pulang ke kampung halaman, dengan
niat akan di unggah ke Youtube. “Wah video aku banyan penontonnya” ucap ku
beberapa bulan setelah video terunggah.
Perasaan bangga muncul
ketika mengetahui hal tersebut, walaupun videonya masih terlihat jelek dan
tidak memiliki nilai estetika. Aku mengunggah beberapa video kembali dengan
model yang sama, namun aku merasa bosan dan ingin ada kemajuan dalam kemampuan
video ku.
Aku mencari referensi
baru tentang estetika video yang benar, dan aku melihat inspirasi yang menurut
ku orang ini sesuai dengan selera ku. Orang itu bernama Sam Kolder yaitu
seorang videografer handal berasal dari Kanada, “Video kok transisinya bagus
sekali, ah aku mau coba belajar” ujar aku yang penasaran dengan karyanya.
Hal yang perlu dimiliki
untuk bisa menghasilkan video seperti Sam Kolder adalah, memiliki aplikasi
video edit Adobe Premiere Pro. Pada saat itu juga aku langsung menemui teman ku
bernama Robby, tidak berpikir panjang dia langsung mengunduh aplikasi untuk ku.
Aku belajar alat dasar yang harus diketahui, tidak mudah mempelajarinya.
Hari berikutnya aku
belajar, mencari, dan praktik untuk mendapatkan hasil yang aku mau, semua hal
tersebut sulit dijalani karena aku harus butuh pembiasaan. “Asik! Video pertama
ku jadi juga” ucapku dengan tidak ragu untuk unggah video itu ke Instagram.
Hasilnya menurutku sangat buruk, lebih buruk dari yang terburuk.

Biar dibilang buruk namun
tekad ku besar untuk membuat kemampuan ku baik, aku melakukan pembuatan video
dan menggunggahnya tidak hanya sekali, namun sering menurut ku bahkan aku
berfikir jika teman ku di Instagram muak dengan karya ku. “Biarkan saja orang
kesal dengan karya ku, enggak peduli!” ucap aku.
Seiring berjalannya
waktu aku terbiasa dengan aplikasi dan dunia sinematik ini, aku menikmatinya
setiap pembuatannya karena setiap tema yang diambil membuatku selalu penasaran.
Aku merasakan dengan rasa penasaran itu, yang membuatku mengetahui cara untuk
membuat video seperti Sam Kolder.
Akhirnya aku merasakan sudah dititik puas dengan karyaku, dan jika aku bertanya dengan temanku tentang karyaku, mereka juga beranggapan karyaku bagus. Aku semakin percaya diri dengan kemampuanku sekarang, serta aku bisa menggunakan kemampuanku untuk mencari recehan.
Tetap saja karya ku
belum bisa disandingkan dengan Sam Kolder, karena aku rasa dia setiap tahun
juga belajar meningkatkan kemampuannya. Kemampuanku tidak sebaik kemampuan Sam
Kolder empat tahun lalu, memang seharusnya seperti itu karena dia inspirasi ku.
Ilmu videografi
berkembang pesat karena, ilmu ini merupakan hasrat yang muncul dari diri
sendiri. Bukan pusing memikirkannya namun menikmati setiap proses pembuatannya,
serta memunculkan rasa puas tersendiri untuk diri kita ketika melihat hasilnya.
Dalam era digital ini
video pun menjadi menu favorit semua pengguna media sosial, maka jika memiliki
bakat tersebut jangan diabaikan, karena dari bakat itu sendiri akan memberikan
manfaat untuk kita bahkan orang lain.








Wahh
BalasHapusmantap. sharing ilmu kapan kapan via zoom:)
BalasHapuskeren banget
BalasHapuskeren bangett sangat menginspirasi
BalasHapus